Film Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck (TKVDW) ini merupakan film yang diangkat dari sebuah buku atau
novel dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih diakrab disebut nama Buya
Hamka. Film ini dirilis pada pertengahan Desember 2013. Disutradarai oleh Sunil
Soraya dan diproduseri oleh Ram Soraya ini menghabiskan waktu yang cukup lama
yaitu 2 tahun untuk menulis naskah dan 5 tahun untuk proses produksi nya.
Biaya pembuatan film
TKVDW ini cukup mahal karena tidak hanya di satu kota tetapi di beberapa kota
di Indonesia. Seperti di Padang, Medan, Surabaya bahkan di Ibu Kota Jakarta.
Tak heran jika film ini dinobatkan sebagai film termahal buatan Indonesia.
Pemeran-pemeran dari
film ini pun merupakan actor terkenal seperti Pevita Pearce (Hayati), Herjunot
Ali (Zainuddin), Reza Rahadian (Aziz), Randy Danistha (Muluk), Arzeti Billbina
(Ibu Muluk), Kevin Andrean (Sophian), Jajang C Noer (Mande Jamilah), Niniek L
Karim (Mak Base), Musra Dahrizal (Datuk Hayati), Femmy Prety, Dewi Agustin.
Pada awal cerita
seorang pemuda keturunan campuran dari suku bugis (dari ibunya) dan suku minang
(dari ayahnya) bernama Zainuddin berlayar dari tanah kelahirannya Makassar
menuju kampong halaman ayahnya di Padang, Sumatera Barat. Disana Zainuddin
bertemu seorang gadis batipuh yang bernama Hayati yang merupakan gadis
keturunan Minang asli. Zainuddin pun langsung jatuh hati akan kecantikannya.
Pada suatu saat, hujan turun lebat membuat Hayati meneduh disuatu rumah,
tiba-tiba Zainuddin yang membawa payung datang dan memberikan payung tersebut
ke Hayati karena saat itu hujan tak kunjung reda dan juga hari sudah larut
malam. Akhirnya Hayati pun menerima pertolongan Zainuddin dan lekas pulang
kerumah.

Keesokan harinya,
Hayati menulis surat tanda terima kasih nya kepada Zainuddin. Tulisan tersebut
membuat Zainuddin senang, dan Zainuddin pun membalasnya. Dan mereka pun sering
sekali berbalas surat. Seiring waktu berjalan, kedekatan Zainuddin dan Hayati
menjadi buah bibir di Desa Batipuh, hingga ketua adat disana mengetahuinya. Karena
Zainuddin pemuda yang keturunan nya tidak jelas, ia pun di usir dari Batipuh
dan pergi ke Padang Panjang. Sebelum Zainuddin meninggalkan Desa tersebut,
Hayati menemuinya di tepi sungai ketika matahari mulai terbenam. Disana Hayati
bersumpah untuk menunggu Zainuddin kembali kepadanya, dan jika Zainuddin
kembali, Hayati akan tetap dalam keadaan suci dan tidak akan tergoda dengan
lelaki lain karena cinta Hayati hanya untuk Zainuddin seorang. Mendengar sumpah
tersebut, Zainuddin sempat kaget tetapi itu membuat Zainuddin penuh hasrat
untuk kembali kepada Hayati dan mempunyai semangat untuk menggapai
cita-citanya.
Beberapa hari kemudian,
Zainuddin menerima surat dari Hayati yang berisi ia akan datang ke Padang
Panjang untuk menonton lomba pacuan kuda dan akan menginap di rumah sahabatnya.
Akan tetapi tujuan Hayati ke Padang Panjang bukanlah untuk menonton pacuan kuda
tetapi ia ingin sekali bertemu dengan Zainuddin dan menghabiskan waktu
bersamanya di Padang Panjang. Ketika sampai dirumah temannya di Padang Panjang,
Hayati pun diperkenalkan dengan Aziz abang dari teman Hayati. Ternyata pada
pandangan pertamanya, Aziz terpukau dengan kecantikan Hayati dan timbul rasa
suka kepadanya.
Hari yang ditunggu pun
tiba. Hayati datang ke perlombaan pacuan kuda bersama keluarga sahabatnya. Ia
berdandan sangat cantik dengan memakai gaun layaknya seorang gadis bangsawan.
Lain pula Zainuddin yang berdandan layaknya pria yang baru saja selesai
mengaji. Disana Hayati pun bertemu Zainuddin akan tetapi hanya sebentar karena
sahabatnya menariknya dan menjauhinya dari Zainuddin lalu masuk ke bangku
penonton. Dibangku penonton Aziz beberapa kali berbicara dan berdekatan dengan
Hayati, dan hal tersebut terlihat oleh Zainuddin yang selalu memperhatikan
mereka. Sehingga timbul perasaan cemburu Zainuddin kepada Aziz.

Setelah kejadian di
pacuan kuda usai, ternyata ibunda dari sahabatnya Hayati berniat untuk
menjodohkan Aziz dengan Hayati. Hayati yang mendengar kabar tersebut sangat
sedih karena laki-laki yang ia suka adalah Zainuddin. Pada suatu saat yang sama
Zainuddin mengirim surat lamaran untuk Hayati dan Aziz pun mengirim surat
dengan isi yang sama. Para wakil-wakil adat disana mengadakan rapat untuk siapa
yang akan dipilih untuk suami dari Hayati. Dari perbincangan tersebut akhirnya
dipilih lah Aziz karena kesamaan keturunan yaitu sama-sama dari Minang dan juga
Aziz merupakan orang yang kaya raya. Dibandingkan dengan Zainuddin yang
keturunan nya yang tidak jelas dan juga miskin. Hayati pun hanya nurut dan
berdiam diri atas perjodohannya dengan Aziz.
Mendengar berita
tersebut, Zainuddin sangat kecewa dan dia pun berdiam diri selama beberapa
bulan di kasur yang membuatnya sakit. Lalu Hayati dan Aziz pergi menengoknya
dengan maksud agar Zainuddin lekas sembuh. Disaat itu, ternyata Zainuddin
mengetahui bahwa Hayati datang bukan karena menjenguk nya tetapi karena ingin
memberitahu bahwa Hayati sudah menikah. Hal tersebut membuat Zainuddin tambah
drop dan sakit. Zainuddin tidak setuju dengan pernikahan tersebut, karena
pernikahan itu ialah pernikahan atas dasar kekayaan dan harta.
Seiring waktu berjalan,
Zainuddin bangkit dari keterpurukannya berkat semangat dari sahabatnya di
Padang Panjang yaitu Abang Muluk. Karena Zainuddin ingin menghilangkan rasa
cintanya kepada Hayati, ia pindah merantau ke Ibu Kota Jakarta bersama
sahabatnya, Muluk. Di Jakarta, Zainuddin mengasah kemampuannya menjadi penulis.
Berkat kemampuannya itu, ia menjadi penulis terkenal dan menjadi kaya raya. Lalu
Ia bersama sahabatnya pergi ke Surabaya untuk mencari pengalaman yang baru. Diwaktu
yang sama, karena tuntutan pekerjaan, Aziz dan Hayati juga pindah ke Surabaya.
Hayati dan Zainuddin bertemu kembali di sebuah acara drama dari buku Zainuddin.
Aziz pun terpukau dan member selamat kepada Zainuddin dan menganggap Aziz ialah
kawannya.
Suatu hari, Aziz jatuh
miskin karena ia di pecat dan hutang nya menumpuk dimana-mana akibat bermain
judi. Lalu Aziz dan Hayati menumpang di kediaman Zainuddin karena mereka sudah
tidak mempunyai apa-apa lagi. Dengan senang hati Zainuddin menerimanya. Seiring
waktu, Aziz jatuh sakit dan membuatnya berbaring di tempat tidur selama 2
minggu. Selama 2 minggu tersebut, Zainuddin ikut membantu mengurus Aziz.
Setelah sembuh, Aziz berniat untuk membalas budi, ia akan mencari pekerjaan di
suatu tempat lalu ia menitipkan Hayati kepadanya. Tak lama kemudian, datang
surat dari Aziz yang menyatakan ia mengembalikan Hayati kepada Zainuddin,
karena menurut Aziz, hal tersebutlah yang cocok untuk membalas budi kepada
Zainuddin. Dan setelah itu, Aziz memutuskan untuk bunuh diri.
Setelah Aziz meniggal,
Hayati akan di pulangkan ke tanah kelahirannya yaitu di Minangkabau Sumatera
Barat yang kaya akan adat. Ongkos perjalanan pulang akan ditanggung oleh
Zainuddin, dan kehidupan Hayati di kampungnya akan ditanggung Zainuddin hingga
Hayati mendapat suami baru. Hayati akan menaikki Kapal Van Der Wijck dalam
kepulangannya ke kampong halamannya. Namun, di tengah perjalanan kapal yang
ditumpangi Hayati Tenggelam. Disaat itu, Zainuddin mencari-cari Hayati. Dan
ternyata, Hayati ada di sebuah rumah sakit dalam keadaan kritis. Tiba-tiba
Hayati sadar lalu member tahu kepada Zainuddin bahwa dia sangat mencintai
Zainuddin sampai detik ini, dan Hayati akan melihat Zainuddin terakhir kali
nya. Disaat itu, Hayati meminta Zainuddin untuk membacakan 2 kalimat syahadat
hingga nyawa Hayati dicabut. Akhirnya, Hayati pun meninggal dan dimakamkan di
halaman rumah Zainuddin.
Zainuddin merasa
kehilangan Hayati, sehingga rumah yang ia beli dari hasil kerja kerasnya
tersebut diubah menjadi “Panti Asuhan Hayati”
Film Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan nya
yaitu menumbuhkan nilai-nilai adat Indonesia, dapat menghidupkan kembali
keadaan Indonesia dimasa penjajahan dengan didiukung mobil-mobil tua yang
dikendarai oleh pemeran. Namun, film ini banyak kekurangan nya seperti pada penataan
latar tidak bergitu bagus, isi dari film nya juga tidak serasi dengan judul. Adegan
di kapal hanya sedikit, dan ketika kapal tenggelam, tidak ada adegan yang
terlihat panik dan penyebab kapal tenggelam juga tidak jelas dan tekesan aneh. Ketika
Hayati di rumah sakit dan Zainuddin menemukannya lalu tiba-tiba Hayati siuman
dan berbicara dengan Zainudin itu sangat sulit dipercaya di kehidupan nyata. Sehingga
membuat ending nya tidak bagus.
Dari cerita diatas,
dapat disimpulkan bahwa film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini menceritakan
kisah cinta Zainuddin dengan Hayati namun dipisahkan karena adanya adat yang
berbeda. Akhirnya Hayati menikah dengan orang keturunan Minang asli yaitu Aziz,
namun kisah cinta mereka tidak berakhir bahagia. Lalu, Zainuddin pun sakit hati
tetapi dia mencoba bangkit hinggia dia menjadi seorang penulis terkenal dan
kaya raya.
Di posting dari
berbagai sumber.